Kamis, 25 Agustus 2011
Senin, 22 Agustus 2011
Lembar yang Terbuka
Tanganku merah.
Entah apa yang membuatnya begitu perih, sehingga aku tak kuat lagi memaksakan tanganku untuk bekerja. Tumpukan dus yang terlihat berantakan sekarang menjadi pemandangan disekitar apartemenku. Sumpek, rasanya pengap. Seakan paru-paruku dimasuki oleh beribu kapuk tak terlihat dan menutup mulutku dengan sapu tangan berbau apek.
Tidak betah sekali rasanya.
Aku membiarkan barang-barang tergelak begitu saja. Rasa-rasanya sudah tidak ada niatan sama sekali untuk membereskannya, walaupun aku tahu waktuku tinggal sedikit. Tapi aku juga butuh waktu yang sedikit untuk bernapas dengan layak.
Aku mendongakkan kepalaku keluar jendela. Pemandangan dibawahku memang tidak membuat paru-paruku terasa lebih baik--dengan kemacetan dan segala keruwetan jalanan--tapi ini semua terlihat lebih menyenangkan dibanding tumpukan benda persegi cokelat yang baunya tidak karu-karuan disekitar apartemen.
Seperti puluhan Spongebob yang tidak ramah.
Aku menggigit bibirku, sebuah benda tertangkap oleh mataku, dan mengantar otakku memasang adegan kecil yang membuat sudut dalam perutku tersentak.
Burung hantu. Liam.
...dan, Mikaela.
***
Langganan:
Komentar (Atom)


