Minggu, 19 Juni 2011

Yang Tak Terdengar

"Apa yang kamu lakukan?"
"Bukan apa-apa. Hanya ingin menemani kamu."
Aku menatapmu lama, kamu meraih kepalaku dan membiarkan aku bersandar
 di bahumu yang kokoh.
"Tidak usah kau hiraukan untuk apa aku disini, karena aku memang selalu akan ada disini,"

***




Waktu berkali-kali mengingatkan aku bahwa seharusnya aku sudah tidur. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat, tapi tetap saja mataku belum mengijinkanku untuk beristirahat. Kebiasaan buruk yang selama ini tidak bisa aku hilangkan--terus terjaga sampai larut malam.

Hari ini bukan hari yang begitu baik, selain hilangnya satu beban yang ada dipundakku sekarang. Tapi masih banyak hal lain yang harus aku selesaikan sampai akhirnya aku benar-benar bisa membiarkan pundakku turun dengan santai lalu kembali menghabiskan waktuku tanpa harus mengkhawatirkan apa yang akan aku hadapi di keesokan hari.

Hangatnya teh malam ini menemaniku ditengah terangnya nyala laptop yang ada di hadapanku. Jariku terus bergerak tanpa henti, merajut kata demi kata yang ada di pikiranku selama ini. Mungkin tidak akan kutulis semua, tapi rasanya gatal sekali. Aku ingin bercerita. 

Diakhir hari ini akhirnya ada yang kembali membuatku nyaman. Aku menikmatinya, dan aku hanya ingin menjalani apa yang memang harus aku lakukan. Sedikit berbelok mungkin tak mengapa, tapi aku akan selalu ingat kapan aku harus kembali berjalan lurus.

Aku kembali masuk ke dalam aura nyaman ini, entah sampai kapan aku bisa mendapatkannya. Karena aku sendiri pun tidak bisa menduga kapan rasa itu kembali datang. Takut? Mungkin ya. Siapa yang tidak takut untuk terjatuh? Tapi aku tidak akan berlari sejauh itu, bisa saja terjadi sesuatu dan aku tidak mau ekspetasiku melambung terlalu tinggi lalu membiarkan tersenyum meringis. Sakit.

Lalu sampai kapan aku akan membiarkan semua ingin mengalir... tanpa henti?

Membiarkannya hidup dalam kepalaku adalah suatu hal yang menyenangkan. Mungkin layaknya rokok yang dihisap oleh orang-orang tak tahu aturan, atau mungkin seperti sebuah permain game yang dimainkan berjam-jam oleh anak laki-laki. Bodoh. Konyol. Entah kata apa yang pantas menjelaskan tentang itu semua.

Menyimpannya membuatku gila. Seperti anak kecil yang tak mau membagi cokelatnya dengan anak lain. Memakannya sendiri sampai habis, lalu kekenyangan sampai perutnya sakit. Rasa nyaman ini tak selamanya membuat kibasan kupu-kupu dalam perutku menghentak senang.

Lalu?

Hanya aku dan Tuhan yang tahu sampai kapan rasa nyaman ini tetap berada dikepalaku, dan membiarkannya tetap hidup... Dan, kau tahu? Kemarin malam, aku memimpikan sosok itu lagi.

Carmel,
17/06

***

Baca posting sebelumnya disini!