Sabtu, 07 September 2013

Menurutmu, dia apa?



Badannya menggigil. Getaran dari tubuhnya tak terlihat dari kasat mata, tapi aku melihat matanya yang nyalang. Aku bisa merasakan bahwa ketakutan yang begitu besar memancar dari bola matanya yang besar. Yang terus membelalak seakan ingin keluar dari rongganya.
            
Aku ingin memeluknya, tapi tubuhku sendiri pun tak berdaya.

Setitik cahaya yang menemani kami di lorong sempit ini kian menghilang. Aku merasakan getar panik menyetrum tiap senti tubuhku yang diam seperti patung untuk berjam-jam lamanya. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku merasa kosong. Apa yang harus aku lakukan lagi, kalau akhirnya aku hanya bisa bersembunyi?

Tidak ada suara apapun yang terdengar. Ini membuatku semakin frustasi.

“Kapan menurutmu dia akan keluar?”

Aku menggeleng. Kubasahi bibirku. Terasa sangat kering. “Aku tidak yakin,”

Matanya masih terus siaga. Aku bersumpah badannya pasti sangat sakit dengan posisi membungkuk seperti itu, semata-mata untuk melindungiku. Badan kecilnya yang berharga, seratus kali lebih berharga dari tubuhku yang tak berguna.

 “Luruskan tubuhmu, biarkan aku yang berjaga sekarang,”

“Aku laki-laki. Aku yang akan melindungimu,”

“Aku kakakmu, aku yang seharusnya bertanggungjawab atas tubuhmu!”

Selama beberapa detik kami saling membelalak satu sama lain, merasa marah akan segala hal. Dia menggigit bibirnya, dan dengan sikap pura-pura tidak peduli kepalanya kembali mendongak lurus. “Diamlah,”

“Jangan sok kuat. Katakan jika memang kau lelah. Aku akan menggantikanmu,”

"Menurutmu, dia apa?”

Aku menangkap suaranya yang berusaha terdengar kuat, tapi tak bisa menahan rasa ngeri yang sama-sama menusuk sampai tulangku. Mau tak mau sosok itu datang dalam pikiranku. Familiar.

 “Monster,”

“Ya. Kau benar. Monster,” suaranya melemah, berusaha menjaga volume suaranya sekecil mungkin, “sampai kapan kita akan bersembunyi disini?”

“Kau mau pergi?”

“Jika memang benar-benar aman,”

Aku menoleh. Kosong. Lorong ini kosong, dan gelap. Kemungkinan kami untuk kabur pastilah ada. Tapi membayangkan sosoknya yang mengejar kami tanpa suara ditengah kegelapan membuatku bergidik ngeri.

“Tidak, jangan. Disini saja,”

“Tapi tidakkah kau pikir—AAAAAAAAAAA!!!!”
            
Suara kecil itu berubah menjadi raungan ketakutan yang menampar dadaku dengan keras. Aku mendorong tubuhku lebih masuk ke dalam lorong sempit itu. Aku meraih tanganku sendiri, meremasnya dengan rasa tak karuan, mataku melebar dengan cepat dan aku bisa merasakan suaraku hilang begitu saja.
            
Aku hanya bisa diam.
            
Di depanku, adikku, tengah menghadapi monster itu.
           
Tidak, dia tidak menghadapinya.
            
Dia dibunuhnya.
            
Punggung bungkuknya yang sudah semalaman menjagaku menampakkan darah segar. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi aku bisa melihat ada luka panjang yang seakan membelah punggung adikku.
            
Suara kaki yang terseret membuat telingaku semakin siaga.
            
Apa sekarang giliranku?